Selamat datang di WinarniTawangsari.Com, Sehat Hati Murni Nurani Selamat Membaca Semoga bermanfaat
loading...

Selasa, 20 Februari 2018

Mendidik Anak Perempuan dan Generasi yang akan Datang

Anak perempuan dan anak laki-laki mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan, baik pendidikan di rumah, maupun pendidikan di sekolah. Kalau anak laki-laki boleh melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi, anak perempuan pun juga memiliki hak yang sama. Begitu juga kalau anak laki-laki remaja boleh mengenyam bangku kuliah, anak perempuan juga berhak menjadi anak kuliahan. Hanya saja ada satu hal yang membedakan anak laki-laki dengan anak perempuan. Ketika mendidik anak perempuan, kita arahkan agar anak perempuan menjadi memiliki sifat keibuan.


Perempuan mengarah sifat keibuan

Ketika mendidik anak perempuan, hal yang penting, selalu diingat dan diperhatikan, anak perempuan mesti dididik memiliki sifat keibuan. Sifat keibuan mencakup sifat lembut, mengerjakan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan perempuan. Aktivitas membantu ibu memasak di dapur, mencuci gelas, mencuci piring, menyapu di halaman dan seluruh areal rumah, serta berbagai kegiatan lainnya.

Meskipun dalam rumah, semua saudaranya laki-laki, tapi anak perempuan tetap dibina agar memiliki sifat keibuan. Jangan sampai diikutkan secara total kegiatan saudara laki-lakinya karena bisa mengaraahkan anak perempuan itu menjadi tomboy. Tomboy, anak perempuan yang bersikap seperti anak laki-laki. Atau, kadang-kadang ada anak perempuan yang nakal, kadang-kadang bengal seperti anak laki-laki. Malah, dalam satu dua kasus, ada anak perempuan yang bengal melebihi anak laki-laki.

Anak perempuan yang memiliki sifat keibuan, membuatnya mudah dalam melakukan pergaulan sesama anak perempuan. Anak perempuan akan kesulitan bergaul dengan sesama anak perempuan kalau dirinya bersikap dan berpenampilan tomboy.


Anak perempuan lebih halus perasaannya


Sebagai wanita, anak perempuan memang secara alami memiliki perasaan yang halus. Anak perempuan diperlakukan halus, lebih halus dari anak laki-laki. Hal itu berkaitan dengan kelembutan hatinya. Jangan sampai kita memperlakukan anak perempuan secara kasar, karena bisa melukai hati, yang berimbas bisa mengganggu psikologisnya.

Anak perempuan yang secara psikologis terganggu karena perlakuan kasar orang tuanya, cenderung menjadi perempuan pendiam, seperti tertekan dan terbebani pikirannya. Anak perempuan yang selama di dalam rumah sudah tertekan, ketika berada di luar rumah, saat bergaul dengan teman-temannya cenderung merasa minder. Ada kekhawatiran dirinya diperlakukan kasar oleh teman-temannya seperti saat di rumah.

Kehalusan perasaan anak perempuan wajib dijaga agar dia bisa berkembang sebagai anak yang gembira, bebas, kreatif, dan tidak tertekan. Anak perempuan yang halus perasaannya akan berkembang secara wajar seperti teman-teman sebaya. Perempuan yang normal bisa dilihat dari kelembutannya, bukan ketomboyannya. Tomboy buakn sesuatu yang buruk, tapi memang sebaiknya dan sewajarnya perempuan tampil feminim.


Anak perempuan menjadi pelindung adik-adiknya

Aanak perempuan, apalagi yang sulung atau mempunyai adik, dididik agar bisa menjadi pelindung bagi adik atau adik-adiknya. Sifat keibuan yang dimiliki perempuan akan membuat anak perempuan itu menenangkan dan menenteramkan adik atau adik-adiknya. Ketika berada bersama kakak perempuan yang berkarakter pelindung, adik atau adik-adik ini merasa jiwanya tenang, terlindungi, dan aman.

Secara alami dan naluri, biasanya anak perempuan memang sudah menjadi seperti seorang ibu bagi adiknya. Dia akan melayani, menyuapi, atau pun kegiatan lainnya yang menjadi ’pekerjaan’ seorang ibu. Sejak kecil anak perempuan dibiasakan menjadi pelindung bagi adiknya agar kelak kalau dewasa menjadi melakukan hal sama bagi anak-anaknya.


Perempuan bukan berarti pandai memasak

Pemikiran bahwa anak perempuan identik dengan memasak dan mencuci piring, mesti disesuaikan dengan keadaan. Jaman telah berubah, makanya perlakuan terhadap anak perempuan juga mesti diubah, disesuaikan dengan keadaan. Jangan paksakan kehendak kepada anak perempuan agar wajib bisa memasak.

Memasak bukan pekerjaan mudah. Salah bumbu sedikit saja bisa membuat rasa masakan kacau. Pada saat anak perempuan masih kecil, perlu dibelajari memasak, tapi jangan sampai dipaksa menjadi mahir memasak seperti ibunya, selayaknya orang dewasa. Masak itu tanganan, bakat bawaan, tidak sembarang orang bisa memasak. Semua orang bukan ahli dan berbakat untuk memasak. Maka pada masa anak-anak, perempuan hanya sekadar diberikan pengetahuan dasar tentang memasak, soal nanti mampu memasak atau tidak, akan mengikuti bakat dan minat anak tersebut.


Anak perempuan yang sopan dan toleran

Sopan santun sangat penting dibelajarkan pada anak perempuan. Anak perempuan mesti diberi pendidikan budi pekerti luhur agar mempunyai sopan santun. Sopan terhadap orang tua, santun terhadap orang lain, dan beretika terhadap sesama manusia. Anak perempuan yang mempunyai sopan santun, otomatis dia akan menjadi sosok manusia yang toleran.

Sopan santun yang melekat pada anak perempuan membuat anak tersebut juga tahu membatasi diri dalam bertindak, sehingga tidak kelewatan. Anak-anak yang kelewatan dalam bertingkah laku karena tidak memiliki sopan santun, biasanya disebut anak nakal dan bengal. Sungguh tidak enak kalau ada anak perempuan kita di-cap demikian kan?

Anak perempuan yang kurang sopan santun, pada saat dewasa bisa terjebak dalam kultur kurang  bagus, misalnya ikut-ikutan anak laki-laki yang suka urakan, merokok, atau tindakan lainnya yang sangat merugikan pihak perempuan.


Perempuan mendidik generasi yang akan datang

Sudah bisa dipastikan, anak perempuian merupakan sosok penting perannya pada fase-fase kehidupan selanjutnya. Saat remaja, anak perempuan mesti bisa tahu diri dan tahu posisi. Anak perempuan yang sudah remaja mesti lebih hati-hati dalam membawa diri. Kelak kalau sudah dewasa, akan menjadi pendidik utama bagi anak-anaknya. Anak-anak penerus generasi yang akan datang.

Di sini peran penting orang tua dalam mendidik anak perempuian selama berada di rumah. Pendidikan di rumah, sangat penting perannya dalam perkembangan anak perempuan. Meski demikian, peran sekolah juga tidak boleh diabaikan. Pihak sekolah, selain mendidik agar anak-anak menjadi pintar secara akademis, juga dididik untuk menjadi anak-anak yang berbudi baik, sopan, dan toleran.

***





KETIKA MENEMUI adf.ly , klik SKIP_AD -nya

LANGGANAN ARTIKEL WINARNI TAWANGSARI

Tulis email Anda untuk mendapatkan update ARTIKEL di blog ini, lalu "KLIK DI SINI"!:

Delivered by FeedBurner